JATIMTIMES - Malam itu, kekuasaan kehilangan maknanya. Di tengah gelap yang sengaja dipelihara, seorang khalifah besar justru runtuh oleh kata-kata yang jujur. Harun ar-Rasyid, penguasa Dinasti Abbasiyah yang namanya lekat dengan kejayaan, menangis tersedu hingga nyaris pingsan, bukan karena perang, melainkan karena nasihat tentang amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Kisah ini dicatat Fariduddin Attar dalam Tadzkiratul Auliya. Diceritakan, pada suatu malam Harun ar-Rasyid memanggil Fazl Barmasid, orang kepercayaannya. Dengan nada letih, sang khalifah mengungkapkan kejenuhan yang jarang diakui penguasa. Ia ingin bertemu seseorang yang mampu menunjukkan siapa dirinya sebenarnya, tanpa silau kekuasaan, tanpa sanjungan istana.
Baca Juga : Jangan Sepelekan Insomnia, Ini Bisa Jadi Sinyal Gagal Ginjal
Fazl membawanya ke rumah Sufyan al-Uyainah. Saat pintu diketuk dan identitas tamu disebutkan, Sufyan justru bertanya mengapa seorang khalifah harus datang sendiri. Baginya, jika diminta, ia yang akan menghadap. Jawaban itu membuat Harun ar-Rasyid bergeming. Ia merasa belum menemukan suara yang ia cari, suara yang berani menegur tanpa rasa takut.
Sufyan kemudian menyarankan satu nama: Fuzail bin Iyaz. Sebelum berpisah, ia membacakan firman Allah SWT dalam Surah Al-Jasiyah ayat 21 yang mengingatkan bahwa pelaku keburukan tidak akan disamakan dengan orang-orang beriman dan beramal saleh, baik dalam hidup maupun mati.
Sufyan membacakan ayat ini, Allah berfirman:
"Apakah orang-orang yang melakukan keburukan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS Al-Jasiyah Ayat 21)".
Harun ar-Rasyid mengakui, ayat itu saja sudah cukup menjadi nasihat yang mengguncang batin.
Perjalanan berlanjut ke rumah Fuzail bin Iyaz. Ketika pintu diketuk dan disebutkan bahwa yang datang adalah pemimpin kaum Muslimin, Fuzail justru menolak keluar. Ia menegaskan bahwa kekuasaan bukan alasan untuk mengganggu seseorang, bahkan mengingatkan akibat jika pintu itu dibuka secara paksa. Harun ar-Rasyid akhirnya masuk dengan langkahnya sendiri. Fuzail memadamkan lampu, memilih berbicara dalam gelap, seolah ingin meniadakan jarak antara penguasa dan hamba.
Saat tangan sang khalifah terulur, Fuzail menyambutnya dengan kalimat sederhana namun menohok, seraya mendoakan agar tangan yang lembut itu diselamatkan dari api neraka. Doa itu membuat pertahanan batin Harun ar-Rasyid runtuh. Tangisnya pecah, tanpa sisa.
Ia meminta Fuzail menyampaikan nasihat. Ulama itu pun mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW tentang kepemimpinan. Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kepemimpinan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang menunaikan amanahnya dan berlaku adil” (HR. Muslim). Kalimat itu melayang di udara gelap, menghantam kesadaran seorang penguasa.
Fuzail lalu mengisahkan dialog Nabi Muhammad SAW dengan pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, yang pernah meminta kedudukan. Nabi menjawab bahwa sesaat memimpin diri sendiri dalam ketaatan kepada Allah lebih baik daripada ribuan tahun ditaati manusia. Maknanya jelas: kekuasaan tanpa ketaatan hanyalah beban, bukan kemuliaan.
Baca Juga : Bathoro Katong: Darah Majapahit, Mandat Demak, dan Perebutan Kekuasaan di Ponorogo
Harun ar-Rasyid tak meminta nasihat itu dihentikan. Ia justru memintanya dilanjutkan. Fuzail kemudian mengutip kisah Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang dikenal adil, yang mengaku gundah saat diangkat memimpin. Umar menyadari bahwa jabatan tinggi bukan hadiah, melainkan ujian. Ia dinasihati untuk memandang kaum Muslimin yang tua sebagai ayah, yang dewasa sebagai saudara, dan yang kecil sebagai anak, dan memperlakukan mereka sebagaimana keluarga sendiri.
Nada Fuzail kian tajam. Ia meminta Harun ar-Rasyid menganggap negeri yang dipimpinnya sebagai rumahnya sendiri dan rakyat sebagai keluarganya. Ia mengingatkan bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban atas setiap jiwa. Bahkan, ia menggambarkan seorang perempuan tua yang tidur dalam keadaan lapar, kelak menarik pakaian sang khalifah pada hari kebangkitan sebagai bukti kelalaian.
Kata-kata itu membuat Harun ar-Rasyid menangis tersedu hingga hampir kehilangan kesadaran. Fazl Barmasid mencoba menghentikan Fuzail, menuduh nasihatnya terlalu keras. Namun Fuzail membalas dengan tegas, menyebut Fazl seperti Haman, tokoh yang menyesatkan Fir’aun dan menegaskan bahwa justru orang-orang di sekitar kekuasaanlah yang sering menjerumuskan pemimpin.
Tangis Harun ar-Rasyid semakin menjadi. Ia memahami isyarat itu: dirinya diibaratkan Fir’aun, penguasa yang diuji oleh kekuasaan. Di tengah kegetiran, ia bertanya kepada Fuzail apakah sang ulama memiliki utang.
Jawaban Fuzail singkat dan mengguncang, “Utang ketaatan kepada Allah. Jika Dia menuntut pelunasannya, celakalah aku.”
Malam itu, sejarah tidak mencatat gemerlap istana, melainkan runtuhnya keangkuhan seorang penguasa. Sebuah pelajaran bahwa kekuasaan, setinggi apa pun, selalu bermuara pada satu hal: pertanggungjawaban. Dan di hadapan kebenaran, mahkota tak lagi berbunyi, ia hanya diam, menunggu diadili.
