JATIMTIMES - Wajah Alun-Alun Kota Batu kini tengah menjadi sorotan karena dinilai mulai kehilangan identitasnya. Salah satunya akibat kepungan lahan parkir, yang juga dirundung sejumlah masalah menahun. Tata kelola yang belum maksimal dan pergeseran fungsi ruang publik menuai kritik.
Anggota Komisi B DPRD Kota Batu, Sujono Djonet menilai estetika tata kota dan kenyamanan wisatawan telah tercederai oleh deretan kendaraan yang memenuhi setiap sudut jalan di pusat keramaian tersebut. Djonet bahkan menyebut kondisi Alun-Alun saat ini sudah terkesan tidak tertata.
Baca Juga : Ribuan Pohon Hasil Perempesan Akan Dilelang oleh DLH Kota Malang
"Alun-alun ini adalah wajah kota. Namanya wajah itu harus cantik, tidak boleh ada kesan 'rembes' atau tidak ramah. Kalau saya lihat, area parkir ini sudah menjadi seperti bagian dari taman. Padahal kita ke Kota Batu itu ingin sejauh mata memandang itu indah dan sejuk," ujar Djonet saat ditemui, belum lama ini.
Politisi Nasdem ini mengingatkan kembali filosofi awal pembangunan Alun-Alun Kota Batu sebagai etalase potensi lokal, mulai dari apel hingga sapi perah. Namun, kini komposisinya dianggap sudah tidak ideal karena ruang terbuka hijau mulai tergerus oleh kebutuhan parkir yang tak terkendali, padahal retribusi yang masuk ke daerah tergolong rendah.
Djonet mendorong agar duet kepemimpinan Nurochman-Heli Suyanto melakukan gebrakan konkret. Ia mencontohkan keberhasilan penataan kawasan Kayutangan Heritage di Kota Malang yang kini bersih dari parkir tepi jalan berkat adanya gedung parkir terpadu. Menurutnya, langkah ini strategis untuk mencegah kebocoran retribusi sekaligus menghilangkan praktik "getok parkir".
"Tidak ada lagi yang namanya getok parkir karena tempatnya sudah disediakan dengan sistem transparan. Selain itu, kualitas pariwisata kita saya yakin juga akan semakin baik jika ada langkah konkret seperti pembangunan gedung parkir terpadu," imbuhnya.
Djonet mendesak dinas teknis segera melakukan kajian mendalam agar wisatawan bisa parkir dengan nyaman tanpa merusak estetika kota. Jika tidak segera berinovasi, ia khawatir Kota Batu akan tertinggal oleh daerah lain yang lebih sigap melakukan pembenahan tata ruang.
"Kami di Dewan sangat mendukung pembenahan ini sebagai daya dobrak untuk tata kota Batu yang lebih baik," pungkas Djonet.
Senada dengan Djonet, Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Batu, Endro Wahyu Wijoyono, menegaskan bahwa penataan Alun-Alun sudah dalam taraf mendesak. Pria yang akrab disapa Abah Endro ini merasa miris melihat estetika ikon wisata tersebut tertutup oleh deretan motor dan mobil yang parkir sembarangan hingga menimbulkan kesan kumuh dan macet.
"Alun-alun adalah wajah Kota Batu. Tapi saat ini, wajah itu tertutup oleh kendaraan yang parkir di sembarang tempat. Solusinya adalah membangun gedung parkir vertikal yang representatif, mirip seperti yang dilakukan di Malang. Dengan begitu, area Alun-Alun bisa steril," tegas Endro.
Ia menambahkan bahwa kapasitas parkir saat ini sudah melampaui batas, terutama saat akhir pekan. Hal ini tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga menghambat aksesibilitas pejalan kaki. Meski menyadari potensi gesekan dengan pihak-pihak tertentu, Endro menekankan bahwa kepentingan keindahan kota harus menjadi prioritas utama.
Djonet pun memberikan masukan tambahan agar penataan ini dilakukan secara menyeluruh, termasuk wacana pemindahan kabel ke bawah tanah (ducting) dan mengembalikan jalan penghubung Alun-Alun menjadi area resapan air. Visi besarnya adalah mewujudkan pusat wisata terintegrasi yang ramah lingkungan.
"Nantinya kita ingin kawasan ini dimekarkan. Jalan-jalan sekitarnya harus menjadi daerah resapan agar tidak ada lagi banjir di tengah kota. Ini tuntutan rasional bagi kota wisata untuk mewujudkan taman kota yang ramah lingkungan," tambahnya.
