Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hiburan, Seni dan Budaya

Redam Dampak Negatif Medsos pada Remaja, Ini Cara Lintas Seniman Kota Batu

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Yunan Helmy

15 - Jun - 2026, 12:23

Placeholder
Para pelaku industri kreatif di Kota Batu mulai menginisiasi gerakan pemulihan karakter berbasis metode seni peran lewat platform GoodPlay Acting Space.(Foto: Istimewa/Didik S. for JatimTIMES)

JATIMTIMES – Karakter anak dan remaja generasi masa kini yang tumbuh besar di tengah pusaran arus digitalisasi diakui memiliki tingkat kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi, terutama saat berekspresi di depan kamera media sosial.

Namun, fenomena tingginya keberanian tampil di ruang publik digital tersebut dinilai para pakar sering tidak berbanding lurus dengan kematangan kontrol emosional, kepekaan empati, serta kemampuan dasar dalam berkolaborasi di kehidupan sosial nyata.

Baca Juga : Pertamax Makin Mahal, Ini Daftar Motor Honda yang Bisa Beralih ke Pertalite

Merespons melebarnya jarak kecerdasan interpersonal pada anak akibat ketergantungan gawai, para pelaku industri kreatif di Kota Batu mulai menginisiasi gerakan pemulihan karakter berbasis metode seni peran lewat platform GoodPlay Acting Space.

Head Coach GoodPlay Acting Space, Yusak Santoso, menegaskan bahwa orientasi utama gerakan ini sengaja menjauh dari pakem sekolah bakat komersial yang sekadar mengejar popularitas instan di industri hiburan.

Seni peran secara radikal digunakan sebagai sarana pembelajaran kehidupan yang esensial agar generasi muda di Kota Batu memiliki daya tangkal moral yang kuat dan tidak kehilangan jati diri di tengah distorsi informasi media sosial.

"Kami tidak mengajarkan anak menjadi orang lain. Kami membantu mereka menemukan dirinya sendiri," tegas Yusak Santoso, Senin (15/6/2026).

Dikatakannya, langkah ini diambil sebagai bentuk kritik sekaligus solusi konkret atas minimnya wadah edukasi non-formal di daerah yang mampu mengintegrasikan seni pertunjukan, literasi cerita, kebudayaan lokal, hingga sinematografi ke dalam kurikulum pembentukan mental remaja.

Metodologi seni peran dalam pergerakan ini tidak lagi dipandang sebagai sekadar keterampilan teknis komersial untuk mencetak aktor panggung, melainkan dieksplorasi sebagai instrumen psikologis untuk melatih kepekaan rasa dan kontrol emosi anak.

Melalui filosofi “Ruang Bermain. Berekspresi. Bertumbuh.”, aktivitas bermain peran yang terstruktur dijadikan media stimulasi agar anak-anak mampu mengenali ego personal, mengasah teknik komunikasi publik (public speaking), serta memahami perbedaan sudut pandang orang lain.

Agenda pengasahan karakter yang dijadwalkan mulai resmi bergulir pada bulan Juli 2026 mendatang ini membagi klasifikasi peserta ke dalam tiga klaster kelompok usia guna menyesuaikan fase psikologis perkembangan anak.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 15 Juni 2026: Aries Makin Produktif, Taurus Diminta Kendalikan Emosi

Ketiga klaster tersebut dirinci mulai dari light space category untuk anak usia 7 hingga 12 tahun, glow space category bagi remaja awal usia 13 sampai 15 tahun, hingga tingkatan paling matang yakni shine space category untuk rentang usia 16 hingga 18 tahun.

Sebagai parameter pengujian mental dan tanggung jawab tim, para peserta di setiap tingkatan usia nantinya dituntut menyelesaikan target produksi berupa pementasan karya seni pertunjukan mandiri serta pembuatan film pendek.

Yusak menambahkan, muara dari seluruh kurikulum berbasis pengalaman ini diarahkan untuk membentuk kepribadian remaja yang lebih sehat, peka, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

"Karena tujuan akhir seni peran bukan sekadar mencetak aktor, melainkan membantu seseorang memahami dirinya, memahami orang lain, dan bertumbuh sebagai manusia," imbuh pria yang juga aktif di dunia teater tersebut.

Gerakan literasi karakter ini lahir dari keresahan kolektif lintas bidang para tokoh kreatif di balik layar Batu International Kids Film Festival (BAIK Film Fest), yakni Dece Dyah (Sanggar Tari Tribhuwana), Yusak Santoso (Sanggar Teater), Lingga G Permadi (filmmaker), dan Joel Tampeng (music director).

"Kolaborasi ini diharapkan mampu memicu lahirnya ruang-ruang tumbuh alternatif yang aman, bermakna, dan mampu menyelamatkan masa depan generasi muda Indonesia," imbuh Yusak.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Seniman Kota Batu medsos media sosial remaja dampak negatif



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tuban Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Yunan Helmy

Hiburan, Seni dan Budaya

Artikel terkait di Hiburan, Seni dan Budaya