Menuju Jejaring Kota Kreatif Dunia, Kota Batu Usung Living Mountain Gastronomy Ecosystem di Seleksi UCCN 2027
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
01 - Sep - 2026, 11:14
JATIMTIMES – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mematangkan langkah strategis menuju panggung internasional melalui keikutsertaan dalam Seleksi Nasional Tahap II UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027. Wali Kota Batu Nurochman memimpin langsung briefing pemantapan materi dan penguatan narasi proposal di Ruang Kerja Wali Kota, Senin (31/8/2026).
Langkah konsolidasi ini digelar menjelang presentasi resmi di hadapan Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) Kementerian Ekonomi Kreatif pada 2 September 2026. Pemkot Batu optimistis melaju ke tahap paparan nasional setelah sebelumnya dinyatakan lolos dari penilaian Seleksi Nasional Tahap I.
Baca Juga : OMI Kemenag 2026 Dibuka: Cek Jadwal, Syarat hingga Daftar Bidang yang Dilombakan
Tim delegasi resmi Kota Batu di hadapan Panselnas dipimpin langsung oleh Wali Kota Batu Nurochman bersama Kepala Bappelitbangda Bangun Yulianto, Ketua BPC PHRI Kota Batu Sujud Hariadi, dan Koordinator Tim Dossier UCCN Alan W. Hafiluddin. Tim ini akan memaparkan visi tata kelola Batu Agrokreatif dalam durasi 10 menit.
Wali Kota Batu Nurochman menegaskan bahwa keikutsertaan dalam jaringan kota kreatif UNESCO bukan sekadar mengejar status, melainkan strategi kebudayaan untuk menjawab ancaman alih fungsi lahan dan regenerasi petani. Konsep yang diusung berfokus pada Living Mountain Gastronomy Ecosystem yang mengintegrasikan sektor pertanian pegunungan dengan industri kuliner global.
" From Mountain Agriculture to Global Gastronomy bukan sekadar slogan, melainkan visi Kota Batu untuk menjadikan kekayaan lokal sebagai kontribusi Indonesia bagi jejaring kota kreatif dunia," ujar Nurochman.
Ketua Komisi Pelaksana Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu Muhammad Anwar membeberkan bahwa proposal ini didukung penuh oleh kolaborasi Hexahelix yang melibatkan dinas teknis, asosiasi perhotelan, akademisi, hingga pegiat ekonomi kreatif. Identitas gastronomi yang ditawarkan menyakup kekuatan warisan pangan lokal seperti Sego Empok, Jenang Suro, hingga Tempe Beji.
Baca Juga : Dari Catwalk ke Dunia Fashion, Talenta Cilik Jadi Sorotan di Mr and Miss Vaganza 2026
"Pengusulan UCCN ini merupakan gerakan kolaboratif yang menyatukan kebijakan pembangunan, pertanian, pariwisata, hingga komunitas gastronomi demi membawa model pembangunan berbasis pertanian dan budaya menuju panggung global," terang Muhammad Anwar.
Pihaknya berharap penetapan UCCN 2027 kelak mampu memperluas akses kemitraan internasional Kota Batu dengan berbagai institusi global di Jepang maupun Belanda. Penguatan posisi ini diproyeksikan dapat memperluas pasar rantai nilai pangan lokal dari lahan pertanian langsung ke meja makan wisatawan.
