Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Pembagian Becak Listrik Dinilai Tidak Tepat Sasaran, Koordinator GSN Situbondo Buka Suara

Penulis : Wisnu Bangun Saputro - Editor : Nurlayla Ratri

28 - Jan - 2026, 14:45

Placeholder
Penyaluran bantuan becak listrik gratis dari Presiden Prabowo Subianto di Pendopo Pate Alos Besuki oleh GSN, Senin (26/1/2026) lalu. (Foto: Wisnu Bangun Saputro/ JATIMTIMES)

JATIMTIMES - Program penyaluran bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) di Kabupaten Situbondo, Senin (26/1/2025) lalu menuai sorotan dari masyarakat. 

Bantuan yang digagas sebagai upaya meringankan beban tukang becak lansia itu dinilai tidak sepenuhnya tepat sasaran. Sejumlah warga menilai masih banyak tukang becak lanjut usia yang aktif mencari nafkah justru tidak menerima bantuan tersebut.

Baca Juga : Kepatuhan Platform Digital Terhadap Perpres 32/2024 untuk Mewujudlan Jurnalisme Berkualitas Dinilai Masih Rendah

Koordinator Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) Situbondo, Edi atau yang akrab disapa Edi Sogol, menanggapi berbagai keluhan tersebut. Ia menegaskan bahwa program becak listrik merupakan murni gerakan sosial yang bersumber dari dana pribadi Presiden RI Prabowo Subianto, bukan dari APBN maupun APBD.

Edi mengungkapkan, memang ada keluhan masuk ke pihaknya terkait kenapa tidak mendapatkan padahal sudah didata oleh oknum yang diduga memanfaatkan momentum pembagian becak listrik untuk kepentingan pribadi. Oknum tersebut disebut ikut melakukan pendataan dan menjanjikan bantuan becak listrik dengan syarat adanya sejumlah uang yang harus dibayarkan di muka.

Edi juga menegaskan bahwa dua oknum yang berinisial S dan S, bukan bagian dari GSN dan tidak memiliki tugas maupun kepentingan resmi dalam program tersebut. Karena adanya indikasi permintaan uang, data yang dibawa oleh oknum tersebut tidak diterima oleh GSN.

"Sekali lagi saya tegaskan, GSN tidak menarik sepeser pun dalam program becak listrik ini. Jika ada yang meminta uang, itu di luar tanggung jawab kami," tegas Edi, Rabu (28/1/2026) saat dihubungi JATIMTIMES melalui sambungan telepon WhatsApp.

Ia juga menjelaskan bahwa data penerima becak listrik telah dilakukan sejak tahun 2025 lalu. Adapun kriteria penerima difokuskan kepada tukang becak dengan rentang usia 55 tahun ke atas yang masih aktif bekerja.

Terkait adanya penerima berusia di bawah kriteria tersebut, Edi menyebut kemungkinan becak listrik tersebut awalnya diperuntukkan bagi orang tua atau anggota keluarga yang berprofesi sebagai tukang becak saat pendataan. Namun, ketika penyerahan bantuan berlangsung, yang bersangkutan berhalangan hadir sehingga diwakilkan oleh anggota keluarganya.

"Setelah becak diterima, bisa saja kemudian dipakai oleh anaknya. Itu yang mungkin dilihat masyarakat seolah tidak tepat sasaran," ujarnya.

Terkait masih banyaknya tukang becak yang belum mendapatkan bantuan, Edi menjelaskan bahwa jumlah becak listrik yang tersedia memang terbatas. Untuk Kabupaten Situbondo, hanya dialokasikan sebanyak 200 unit becak listrik yang dibagikan kepada tukang becak.

Sementara itu, salah seorang warga Kalimas, Kecamatan Besuki, Situbondo, Nur Ayu Lailatul Qodriyah, turut menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai pendataan dan pembagian becak listrik di wilayahnya tidak berjalan adil dan transparan.

Ayu menyebut ada beberapa tetangganya yang berusia lanjut, bahkan mencapai 75 tahun, dan masih aktif sebagai tukang becak kayuh, justru tidak menerima bantuan meski sempat didata oleh dua oknum berinisial S dan S.

Baca Juga : Mengapa Pacitan Kerap Diguncang Gempa? Ini Alasannya

"Nama-nama seperti Asnawi, Parno, dan Eeng itu masih narik becak sampai sekarang. Mereka lansia dan benar-benar menggantungkan hidup dari becak, tapi tidak dapat bantuan," ungkap Ayu.

Ia juga menyoroti adanya tukang becak yang memiliki tanggungan keluarga, bahkan memiliki anak dengan gangguan jiwa (ODGJ), namun tetap tidak tersentuh bantuan. Sebaliknya, ada warga yang dahulu pernah menjadi tukang becak tetapi sudah lama berhenti bekerja, justru menerima becak listrik.

"Padahal program ini dari Pak Presiden Prabowo tujuannya jelas untuk meringankan para lansia yang masih aktif mencari nafkah. Kalau seperti ini, jadi tanda tanya besar gunanya bantuan ini untuk siapa," tegasnya.

Ayu berharap ke depan GSN dan pihak terkait dapat turun langsung ke lapangan untuk melakukan verifikasi faktual, bukan sekadar mengumpulkan fotokopi KTP. Menurutnya, banyak sandiwara yang dimainkan demi mendapatkan bantuan jika pengawasan tidak dilakukan secara ketat.

"Harusnya dicek langsung ke lokasi, jangan asal data. Kalau tidak, yang benar-benar butuh malah terpinggirkan," tegasnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Andy, warga Kecamatan Panji, Situbondo. Ia mengaku heran karena di lingkungan tempat tinggalnya terdapat tukang becak yang masih aktif hingga saat ini, namun tidak mendapatkan bantuan becak listrik.

"Di lingkungan rumah saya kok tidak dapat, ya. Padahal di sini ada tukang becak yang sejak remaja sampai sekarang masih aktif menarik becak. Usianya sudah lanjut, kelahiran 1948," ujar Andy.

Andy berharap pendataan penerima bantuan ke depan benar-benar dilakukan secara objektif dan faktual di lapangan, agar bantuan becak listrik benar-benar diterima oleh mereka yang paling membutuhkan sesuai tujuan awal program tersebut.


Topik

Peristiwa situbondo becak listrik gsn



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tuban Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Wisnu Bangun Saputro

Editor

Nurlayla Ratri