Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Lingkungan

4 Wilayah di Pulau Jawa yang Berisiko Mengalami Krisis Air Bersih saat Kemarau Panjang 2026

Penulis : Mutmainah J - Editor : A Yahya

02 - Jun - 2026, 11:24

Placeholder
Ilustrasi kemarau. (Foto: Freepik)

JATIMTIMES - Musim kemarau 2026 mulai dirasakan di berbagai daerah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus mendatang dengan kondisi yang cenderung lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap ketersediaan air bersih, terutama di sejumlah wilayah Pulau Jawa yang memiliki tingkat kebutuhan air sangat tinggi. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bahkan telah mengingatkan adanya potensi tekanan terhadap sumber daya air di beberapa daerah.

Baca Juga : Catat Tanggalnya! 9 Fenomena Langit Spektakuler yang Bisa Disaksikan Sepanjang Juni 2026

Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Kementerian PPN/Bappenas, Dadang Jainal Mutaqin, mengatakan bahwa persoalan ketersediaan air di Indonesia tidak merata. Meski secara nasional masih tergolong aman, beberapa wilayah, khususnya di Pulau Jawa, menghadapi tantangan yang cukup serius.

"Jadi sebenarnya Indonesia kalau di rata-rata air itu masih aman. Tapi kalau kita lihat per pulau, per wilayah, ini yang banyak kekurangan air ini ada di Pulau Jawa," ujar Dadang dalam Diseminasi Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 pada Maret 2026, seperti dikutip dari Antara.

Berikut empat wilayah di Pulau Jawa yang dinilai memiliki risiko tinggi mengalami krisis air bersih selama musim kemarau 2026.

1. DKI Jakarta

Jakarta menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus terkait ketersediaan air bersih. Berdasarkan paparan Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 yang dikutip Antara, ibu kota menghadapi tekanan besar terhadap sumber daya air.

Masalah tersebut dipicu oleh tingginya penggunaan air tanah yang berlangsung selama bertahun-tahun. Pengambilan air tanah secara berlebihan tidak hanya mempercepat penurunan muka tanah, tetapi juga memperburuk kondisi sumber air yang tersedia.

Di sisi lain, pencemaran sungai dan sumber air permukaan turut mempersempit akses masyarakat terhadap air bersih yang layak digunakan.

2. Jawa Barat

Sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal. BMKG memperkirakan sekitar 93 persen wilayah di provinsi ini akan mengalami curah hujan di bawah rata-rata saat musim kemarau berlangsung.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, terutama di daerah yang selama ini bergantung pada pasokan air hujan dan sumber air permukaan.

Beberapa wilayah yang diperkirakan terdampak antara lain Kota Bandung, Kota Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Cirebon, dan Kuningan. Apabila kemarau berlangsung lebih lama, kebutuhan air rumah tangga maupun pertanian berpotensi mengalami gangguan.

3. Jawa Tengah

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah memetakan sejumlah daerah yang rawan mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

Baca Juga : Sekolah Politik di STKIP PGRI Situbondo, Michael Ingatkan Mahasiswa Melek Politik

Wilayah yang masuk kategori rentan antara lain Grobogan, Blora, Rembang, Sragen, Klaten, Pemalang, hingga Wonogiri. Daerah-daerah tersebut kerap mengalami kesulitan air bersih ketika curah hujan menurun dalam waktu yang cukup panjang.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah telah menyiapkan cadangan air bersih mencapai 123 juta liter untuk membantu masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak.

4. Jawa Timur

Jawa Timur juga termasuk daerah yang mendapat perhatian dalam kajian Bappenas terkait kerawanan krisis air bersih. Tingginya kebutuhan air di sektor pertanian menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi ketersediaan pasokan air.

Sektor pertanian diketahui menjadi pengguna air terbesar, sementara kebutuhan domestik dan industri terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.

Saat curah hujan berkurang dalam periode kemarau, persaingan kebutuhan air antara sektor pertanian, industri, dan rumah tangga berpotensi semakin besar. Kondisi ini membuat sejumlah wilayah di Jawa Timur perlu meningkatkan upaya pengelolaan sumber daya air agar pasokan tetap terjaga.

BMKG memperkirakan sebagian besar zona musim di Indonesia akan mengalami kondisi kemarau yang lebih kering dibandingkan normalnya. Situasi ini dapat memengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, hingga sektor industri.

Karena itu, masyarakat di daerah rawan kekeringan diimbau mulai melakukan penghematan penggunaan air dan memanfaatkan sumber air secara bijak selama musim kemarau berlangsung.


Topik

Lingkungan musim kemarau bmkg dadang jainal muttaqin



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tuban Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

A Yahya