Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Tradisi Marapu di Sumba Timur, Mayat Disimpan di Rumah Berbulan-bulan Tanpa Bau

Penulis : Irsya Richa - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

13 - May - 2026, 19:52

Placeholder
Jenazah yang dibalut berlapis-lapis kain tenun di dalam rumah. (Foto: Instagram Lady Quinn)

JATIMTIMES - Di Sumba Timur, jenazah tidak selalu langsung dimakamkan setelah seseorang meninggal. Dalam tradisi masyarakat Marapu, jasad anggota keluarga bisa tetap disemayamkan di dalam rumah selama berbulan-bulan, bahkan hingga bertahun-tahun, sambil menunggu seluruh rangkaian upacara adat digelar tanpa meninggalkan bau.

Uniknya, meski berada di tengah aktivitas keluarga sehari-hari, jenazah tersebut kerap tidak menimbulkan aroma menyengat karena dibalut berlapis-lapis kain tenun khas Sumba yang telah melalui ritual khusus. Hal tersebut seperti yang dibagikan dalam video yang diunggah konten kreator asal Bali, Lady Quinn.

Baca Juga : 50 Ucapan Kenaikan Yesus Kristus 2026 yang Penuh Makna, Cocok Dibagikan ke Keluarga dan Media Sosial

Video ini pun mendadak menarik perhatian publik setelah memperlihatkan tradisi pemakaman unik masyarakat Sumba Timur. Dalam unggahannya, Lady Quinn menunjukkan jenazah seorang pria yang masih disemayamkan di dalam rumah keluarga selama lebih dari satu bulan tanpa menimbulkan aroma menyengat.

Jenazah tersebut diketahui merupakan ayah dari pemilik rumah yang wafat pada 26 Februari 2026. Selama menunggu rangkaian upacara adat selesai, jasad tetap berada di ruangan yang sama dengan aktivitas keluarga sehari-hari. Keluarga makan, bercengkerama, hingga beristirahat di lokasi yang sama tanpa merasa terganggu.

“Jujur aku masih nggak percaya bisa menyaksikan hal ini dengan mata kepala aku sendiri. Bahkan aku masih tidak percaya bagaimana jenazah ini sama sekali nggak mengeluarkan aroma,” kata Lady Quinn

Tradisi tersebut merupakan bagian dari kepercayaan Marapu, warisan budaya leluhur masyarakat Sumba. Dalam ajaran ini, seseorang yang meninggal belum sepenuhnya dianggap pergi hingga seluruh prosesi adat pemakaman rampung. Karena itu, jenazah tetap diperlakukan layaknya anggota keluarga yang masih hidup.

Lady Quinn menjelaskan, keluarga masih berinteraksi dengan mendiang selama masa penyemayaman. Bahkan, secara simbolis, jenazah tetap diajak berbicara dan diberi makan.

“Selama beliau berada di sini, beliau akan diperlakukan seperti anggota keluarga yang masih hidup. Diajak berbicara setiap harinya, bahkan beliau tetap diberi makan secara tidak langsung,” ungkapnya.

Hal yang paling menarik perhatian adalah cara masyarakat setempat menjaga jenazah agar tidak menimbulkan bau busuk. Bukan menggunakan formalin ataupun freezer, melainkan dibalut dengan puluhan hingga ratusan lembar kain tenun khas Sumba Timur yang disusun berlapis di dalam peti.

Kain-kain tersebut bukan sekadar penutup biasa. Menurut Lady Quinn, setiap lembar tenun telah melalui ritual doa khusus dan menggunakan bahan pewarna alami seperti akar mengkudu, daun nila, bakau, kunyit, hingga kemiri. Selain itu, di dalam peti juga ditambahkan cairan kapur dan tembakau.

“Bukan formalin atau freezer. Jadi kain ini alasan kenapa tidak ada sedikit pun aroma busuk yang keluar dari jenazah beliau. Di dalam peti terdapat puluhan hingga ratusan lembar kain tenun asli Sumba Timur yang menyelimuti jenazah,” jelas Lady Quinn.

Secara ilmiah, metode tradisional ini dinilai masuk akal. Serat alami dari kain tenun mampu menyerap kelembapan, sementara kapur dipercaya dapat memperlambat aktivitas bakteri pembusuk. Tembakau yang ditambahkan juga memiliki aroma kuat yang membantu menutupi bau.

Baca Juga : Limbah Medis Dibuang di Irigasi Sawah, Pengawasan DLH Kota Malang Dipertanyakan

Di luar fungsi ritual, kain tenun Sumba juga memiliki makna sosial yang sangat tinggi. Bagi masyarakat setempat, kain tersebut menjadi simbol identitas, status sosial, dan bagian penting dari berbagai prosesi adat, mulai dari pernikahan, mahar belis, hingga upacara kematian.

“Kain ini bukan kain sembarangan. Pewarnanya dari bahan alami dan motifnya punya makna tertentu sesuai status sosial keluarga,” ucap Lady Quinn.

Ia menambahkan, satu lembar kain tenun asli Sumba bisa bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Proses pembuatannya pun memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun karena dikerjakan secara manual dengan ketelitian tinggi.

Motif yang ditampilkan juga sarat filosofi. Motif kuda melambangkan kehormatan dan bangsawan, buaya sebagai simbol kekuatan spiritual, sedangkan motif tengkorak manusia merekam jejak budaya perang masa lalu yang diwariskan turun-temurun.

Setelah seluruh upacara adat dan persembahan selesai, jenazah baru dimakamkan di kuburan keluarga yang biasanya terletak di depan rumah, berdampingan dengan leluhur yang telah lebih dahulu wafat.

Melalui unggahan tersebut, Lady Quinn menilai tradisi Sumba bukan sekadar ritual kematian, melainkan warisan budaya yang memperlihatkan hubungan erat antara masyarakat dengan leluhur serta kuatnya makna simbolis kain tenun dalam kehidupan sehari-hari.

“Pada akhirnya, kain Sumba itu bukan cuma sekadar kain adat. Ini adalah warisan budaya yang sampai hari ini berhasil dijaga oleh masyarakat Sumba,” tutup Lady Quinn.


Topik

Serba Serbi Tradisi Marapu Sumba Timur Mayat Disimpan di Rumah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tuban Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Sri Kurnia Mahiruni