Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Kisah Abu Qilabah, Lumpuh Tanpa Tangan dan Kaki tapi Tetap Bersyukur hingga Dijamin Surga

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

13 - May - 2026, 10:20

Placeholder
Kisah Abu Qilabah Abdullah bin Zaid al-Jarmi, Sosok ulama dan ahli ibadah dari Bashrah itu justru mencapai kemuliaan dalam keadaan tubuh yang lumpuh, kehilangan tangan dan kaki, serta penglihatan dan pendengaran yang melemah (ist)

JATIMTIMES - Di tengah kehidupan modern yang kerap menilai manusia dari kesempurnaan fisik dan pencapaian duniawi, kisah Abu Qilabah Abdullah bin Zaid al-Jarmi hadir sebagai pengingat tentang makna sabar dan syukur yang sesungguhnya. Sosok ulama dan ahli ibadah dari Bashrah itu justru mencapai kemuliaan dalam keadaan tubuh yang lumpuh, kehilangan tangan dan kaki, serta penglihatan dan pendengaran yang melemah.

Nama Abu Qilabah mungkin tidak setenar sahabat besar lainnya. Namun, perjalanan hidupnya menjadi salah satu potret keteguhan iman yang banyak dikenang dalam literatur Islam. Dalam e-book “Abu Qilabah, Mengajarkan Sabar dan Syukur kepada Allah SWT” karya Eko Haryanto Abu Ziyad, dikisahkan bagaimana seorang hamba Allah tetap memuji-Nya di tengah ujian fisik yang sangat berat.

Baca Juga : Pastikan Hewan Kurban Layak, DPRD Jatim Dorong Perketat Pengawasan di Pasar Ternak

Abu Qilabah dikenal sebagai seorang ahli ibadah, zuhud, dan perawi hadits yang meriwayatkan banyak hadits dari sahabat Anas bin Malik. Ia berasal dari Bashrah dan wafat di Syam pada tahun 104 Hijriah. Dalam catatan Ibnu Hibban di Kitab Ats-Tsiqot, perjalanan hidupnya menjadi gambaran tentang kesabaran yang tidak hanya diucapkan, tetapi benar-benar dijalani hingga akhir hayat.

Dikisahkan, Abu Qilabah meninggalkan Bashrah menuju Syam karena menolak jabatan qadi yang ditawarkan penguasa. Bersama anak laki-lakinya, ia memilih menjalani hidup sederhana. Namun dalam perjalanan di tengah padang pasir, musibah besar menimpanya. Ia kehilangan kedua tangan dan kaki hingga akhirnya lumpuh total.

Ujian itu belum berhenti. Anak satu-satunya yang selama ini membantu makan, minum, dan berwudhu juga meninggal dunia. Meski demikian, Abu Qilabah tidak pernah berhenti bersyukur.

Kisah haru itu semakin terasa ketika Abdullah bin Muhammad menemukannya di sebuah kemah di tepi pantai. Saat itu, Abu Qilabah hanya mampu berbicara karena hampir seluruh anggota tubuhnya tak lagi berfungsi. Namun lisannya terus dipenuhi pujian kepada Allah SWT.

Ketika ditanya nikmat apa yang masih ia syukuri dalam kondisi demikian, Abu Qilabah menjawab dengan keyakinan yang dalam bahwa Allah masih memberinya lidah untuk berzikir dan memuji-Nya.

Sikap itu menunjukkan bahwa kebahagiaan seorang mukmin tidak selalu lahir dari kelengkapan jasmani, melainkan dari kedekatan hati kepada Allah. Apa yang dianggap penderitaan oleh banyak orang justru menjadi jalan ketenangan bagi Abu Qilabah.

Saat mendengar kabar wafatnya sang anak, ia kembali menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa. Abu Qilabah berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepada-Nya, lalu Ia menyiksanya dengan api neraka.”

Setelah mengucapkan kalimat istirja’, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, ia menarik napas panjang dan wafat dalam keadaan tersenyum. Kisah itu kemudian dikenang sebagai penutup kehidupan seorang hamba yang memandang ujian bukan sebagai hukuman, tetapi jalan menuju ridha Allah SWT.

Al-Qur’an sendiri menegaskan kemuliaan orang-orang yang bersabar. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 24:

Salamun ‘alaikum bima shabartum fa ni’ma ‘uqbad dar.” Artinya: “Keselamatan bagi kalian karena kesabaran kalian; maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Ayat tersebut juga muncul dalam mimpi Abdullah bin Muhammad sebagaimana dikutip Abu Ziyad dari Kitab Ats-Tsiqot. Dalam mimpinya, ia melihat Abu Qilabah berada di surga mengenakan dua kain putih sambil melantunkan ayat tersebut. Abu Qilabah menyebut derajat itu diraih karena kesabarannya menghadapi musibah, rasa syukur ketika lapang, serta takut kepada Allah baik di hadapan manusia maupun saat sendirian.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 13 Mei 2026: Aries Ketiban Rezeki, Leo Diminta Jangan Pendam Masalah

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan penghormatan malaikat kepada penghuni surga. Mereka disambut karena kesabaran dalam menjalankan ketaatan, menjauhi larangan Allah, dan menerima takdir-Nya.

Selain menjadi teladan spiritual, kisah Abu Qilabah juga menunjukkan bagaimana Islam memberi kemudahan bagi umat dengan keterbatasan fisik. Syariat tidak memandang cacat tubuh sebagai penghalang ibadah.

Dalam QS Al-Maidah ayat 6, Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan basuh kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”

Namun para ulama seperti Syaikh Zakariya al-Ansari dan Syaikh Ibrahim al-Bujairami menjelaskan bahwa kewajiban bersuci menyesuaikan kemampuan fisik seseorang. Jika anggota tubuh tidak ada atau tidak mampu digunakan, maka syariat memberikan keringanan.

Islam juga membolehkan seseorang meminta bantuan ketika berwudhu jika memiliki uzur sakit atau keterbatasan fisik. Hal itu sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW yang pernah dibantu Mughirah bin Syu’bah saat berwudhu dalam perjalanan.

Kisah Abu Qilabah pada akhirnya menjadi pengingat bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan terletak pada kesempurnaan tubuh, melainkan kekuatan iman. Ia membuktikan bahwa kehilangan anggota badan tidak berarti kehilangan harapan hidup dan kedekatan dengan Allah SWT.

Ulama besar Wahbah Az-Zuhaili dalam Kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu juga menjelaskan bahwa pahala diberikan sesuai kadar perjuangan dan amal seseorang. Karena itu, mereka yang tetap taat beribadah di tengah keterbatasan justru memiliki kemuliaan yang lebih besar di sisi Allah.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.” (HR Tirmidzi).


Topik

Agama kisah abu qilabah disabilitas kisah inspiratif dalam al quran



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tuban Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri

Agama

Artikel terkait di Agama