JATIMTIMES - Isu radikalisme di kalangan mahasiswa kembali menjadi perhatian dalam sebuah Silaturahim & Dialog Kebangsaan bersama Organisasi Daerah dan Organisasi Mahasiswa di Auditorium Multikultural Unikama, Sabtu (11/4/2026).
Mengusung tema “Moderasi Beragama: Menangkal Radikalisme di Kampus”, forum ini mempertemukan mahasiswa, organisasi kampus, serta tokoh lintas agama dalam satu ruang dialog terbuka.
Baca Juga : Mau Lolos SNBT 2026? Cek Daya Tampung dan Peluang Prodi Impian di Sini!
Wakil Rektor 1 Unikama, Dr. Choirul Huda, dalam pembukaannya menyinggung pentingnya cara pandang mahasiswa dalam merespons isu-isu keagamaan. Ia mengingatkan bahwa tanpa pemahaman yang tepat, perbedaan justru bisa menjadi celah munculnya sikap ekstrem.

Forum ini menghadirkan Cak Islah Bahrawi sebagai pembicara utama. Ia langsung menyoroti hal mendasar yang kerap diabaikan dalam diskursus toleransi, yakni komunikasi.
“Menyoal toleransi, komunikasi adalah segalanya. Kita seharusnya tidak peduli dengan sekat-sekat apa pun, karena sekat itu justru akan menghambat langkah dan pemikiran kita untuk maju dan berkembang,” ujarnya.
Menurut Islah, persoalan radikalisme tidak bisa dilepaskan dari cara orang memahami ajaran agama secara sempit. Ia menegaskan bahwa tidak ada agama yang melegitimasi kekerasan.

“Semua ajaran agama pada dasarnya saling berkorelasi dalam kebaikan. Akhlakul karimah adalah tolak ukur keberagaman yang baik. Kita patut menghargai siapa pun, selama akhlaknya baik,” katanya.
Baca Juga : Profil Gatut Sunu Wibowo, Bupati Tulungagung yang Terjaring OTT KPK
Ia juga menekankan pentingnya empati dalam kehidupan sosial yang majemuk. “Sejatinya, keberagaman adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT kepada kita semua, khususnya bangsa Indonesia,” tambahnya.

Diskusi berlangsung dengan berbagai tanggapan dari peserta, mulai dari mahasiswa hingga perwakilan organisasi. Pertanyaan yang muncul banyak berkisar pada pengalaman langsung menghadapi perbedaan serta tantangan menjaga sikap terbuka di lingkungan kampus.
Pertemuan ini tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi juga memunculkan kesadaran bersama tentang pentingnya ruang dialog yang terus dijaga. Kampus, dalam konteks ini, terlihat bukan hanya sebagai tempat belajar formal, tetapi juga sebagai arena pembentukan cara berpikir yang lebih terbuka terhadap perbedaan.
