JATIMTIMES - Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah konflik militer di Timur Tengah memicu gangguan besar pada jalur pelayaran internasional. Perairan sempit selebar sekitar 33 kilometer yang berkelok ini merupakan jalur laut vital yang menghubungkan produsen minyak terbesar di kawasan Teluk dengan pasar energi global.
Selama ini Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Setiap hari biasanya lebih dari 100 kapal tanker, kapal kargo, hingga kapal kontainer melintasi selat yang berada di antara Iran dan Oman tersebut. Bahkan sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak dunia dikirim melalui jalur laut ini.
Baca Juga : Mengapa Kita Harus Boikot Piala Dunia 2026 di Amerika?
Namun situasi berubah drastis sejak konflik militer pecah di kawasan tersebut pada akhir pekan lalu. Serangkaian serangan terhadap kapal serta meningkatnya ketegangan keamanan membuat banyak perusahaan pelayaran memilih menghentikan sementara perjalanan melalui Selat Hormuz.
Data pelacakan kapal dari MarineTraffic menunjukkan aktivitas pengiriman barang di jalur tersebut hampir terhenti. Banyak kapal memilih berhenti atau berlabuh di pelabuhan terdekat karena khawatir menjadi target serangan.
Kemacetan di jalur sempit ini pun tidak terhindarkan. Ratusan kapal terlihat menunggu di sekitar perairan Teluk Persia dan Teluk Oman sambil memantau perkembangan situasi keamanan.
Laporan dari Lloyd’s List Intelligence mencatat lalu lintas kapal yang melintas di Selat Hormuz turun lebih dari 80 persen hanya dalam beberapa hari terakhir.
Ratusan Kapal Terjebak di Sekitar Selat
Laporan perusahaan analisis maritim juga menunjukkan lebih dari 700 kapal tanker kini berkumpul di kedua sisi Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut terdiri dari pengangkut minyak mentah, kapal produk minyak, hingga kapal kontainer yang tidak berani melanjutkan perjalanan.
Selain itu, sekitar 138 hingga 147 kapal kontainer raksasa dengan total kapasitas mencapai sekitar 470.000 TEU dilaporkan tertahan di wilayah barat selat.
Banyak kapal memilih menunggu di perairan yang dianggap lebih aman, termasuk di dekat pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab. Mereka menunggu hingga kondisi keamanan di jalur pelayaran tersebut membaik sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Aliran Minyak Dunia Anjlok Hingga 86 Persen
Gangguan di Selat Hormuz juga berdampak langsung pada pasokan energi global. Data terbaru menunjukkan aliran minyak yang melewati jalur tersebut turun hingga sekitar 86 persen dibandingkan rata-rata pengiriman harian sebelumnya.
Sebagai perbandingan, biasanya sekitar 19 hingga 20 juta barel minyak per hari dikirim melalui Selat Hormuz. Namun dalam beberapa hari terakhir, hanya beberapa kapal tanker yang berani melintas dengan total muatan sekitar 2,8 juta barel minyak.
Situasi tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak dunia. Pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026, harga minyak mentah global kembali naik tajam akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah.
Baca Juga : Wali Kota Malang Sidak Parsel Lebaran di Mal, Pastikan Produk Jauh dari Kedaluwarsa
Berdasarkan laporan pasar yang dikutip dari MarketWatch, harga minyak jenis Brent crude oil tercatat naik hingga sekitar 100,52 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate diperdagangkan di kisaran 95,12 dolar AS per barel.
Data pasar komoditas dari Trading Economics juga menunjukkan harga Brent sempat melonjak lebih dari 12 persen dalam waktu singkat setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk dan gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Selain konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, situasi keamanan di kawasan ini juga diperburuk oleh ancaman kelompok Houthi di Yaman.
Kelompok tersebut sebelumnya telah memperingatkan kapal-kapal komersial agar tidak melintas di jalur strategis tertentu di kawasan tersebut, termasuk di sekitar Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Ancaman ini membuat banyak perusahaan pelayaran internasional mengambil langkah hati-hati dengan menghentikan sementara perjalanan kapal mereka melalui Selat Hormuz maupun jalur lain yang dianggap berisiko.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi ekspor minyak dari sejumlah negara produsen utama di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia sehingga menjadi rute utama distribusi energi ke Asia, Eropa, hingga Amerika.
Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama, para analis memperingatkan dampaknya tidak hanya terasa pada pasar energi, tetapi juga pada perdagangan global secara keseluruhan. Rantai pasok internasional bisa terganggu, biaya pengiriman melonjak, dan harga energi dunia berpotensi naik tajam.
Situasi di kawasan tersebut hingga kini masih terus berkembang. Perusahaan pelayaran dan negara-negara produsen energi pun terus memantau kemungkinan pembukaan kembali jalur pelayaran paling strategis di dunia tersebut.
