Salat Tarawih Berapa Rakaat yang Dianjurkan Rasulullah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Reporter
Mutmainah J
Editor
Nurlayla Ratri
21 - Feb - 2026, 07:00
JATIMTIMES - Memasuki bulan Ramadan, pertanyaan tentang salat tarawih berapa rakaat selalu kembali muncul. Di Indonesia sendiri, perbedaan jumlah rakaat tarawih sudah menjadi hal yang lumrah dan berlangsung sejak lama. Sebagian melaksanakan 11 rakaat, sementara yang lain 23 rakaat.
Perbedaan ini bukan soal benar atau salah. Keduanya memiliki dasar dalil yang kuat dan diakui para ulama. Yang terpenting bukan sekadar jumlahnya, melainkan bagaimana ibadah itu dijalankan dengan khusyuk dan penuh ketenangan (thuma’ninah). Lantas, berapa jumlah rakaat Tarawih yang dianjurkan Rasulullah SAW? Dihimpun dari berbagai sumber, berikut penjelasan lengkapnya.
Baca Juga : Asal Usul Buka Bersama Saat Ramadan: Jejak Sunnah Nabi hingga Diakui UNESCO
Hadis Tarawih 11 Rakaat
Jika merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, yang berbunyi:
“Rasulullah SAW tidak pernah menambah (salat malam) di bulan Ramadan dan tidak pula di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, maka jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat lagi, maka jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Lalu beliau salat tiga rakaat.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj dalam kitab sahih mereka.
Dalam teks Arab, hadis tersebut berbunyi:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا.
Dari hadis ini, banyak ulama memahami bahwa Nabi melaksanakan 8 rakaat salat malam (tarawih) ditambah 3 rakaat witir, sehingga totalnya 11 rakaat.
Namun, perlu dipahami bahwa pada masa Nabi, salat tarawih tidak dilakukan berjamaah secara rutin setiap malam di masjid. Rasulullah sempat mengimami para sahabat beberapa malam, lalu menghentikannya karena khawatir akan diwajibkan kepada umatnya.
Lalu, Dari Mana Asal 23 Rakaat?
Jumlah 23 rakaat (20 rakaat tarawih + 3 rakaat witir) berasal dari praktik para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA.
Di masa kepemimpinannya, Umar mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan salat tarawih berjamaah secara teratur sebanyak 20 rakaat. Kebijakan ini disepakati para sahabat dan kemudian menjadi praktik yang terus berlangsung di berbagai wilayah Islam.
Mayoritas ulama dari empat mazhab fikih menerima dan mengamalkan jumlah 20 rakaat tarawih tersebut. Di Indonesia, praktik ini menjadi tradisi yang kuat di kalangan Nahdlatul Ulama (NU).
Kenapa Bisa Berbeda?
Perbedaan jumlah rakaat tarawih berakar pada cara memahami dalil dan praktik sahabat.
Secara garis besar, ada dua pendekatan utama:
1. Pendekatan 11 Rakaat
Pendapat ini berpegang pada praktik langsung Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Aisyah RA. Fokusnya bukan pada banyaknya rakaat, tetapi pada:
• Bacaan yang panjang dan tartil
• Gerakan yang tenang dan tidak tergesa-gesa
• Konsistensi mengikuti pola salat malam Nabi
• Pendekatan ini banyak dianut oleh warga Muhammadiyah.
2. Pendekatan 23 Rakaat
Pendapat ini mengacu pada ijma’ (kesepakatan) para sahabat di masa Umar bin Khattab RA. Alasannya antara lain:
• Memberikan kesempatan ibadah yang lebih banyak
• Menambah jumlah sujud, rukuk, dan dzikir
• Mengikuti praktik Khulafaur Rasyidin
• Mayoritas umat Islam di Indonesia juga terbiasa dengan jumlah ini.
Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan menunjukkan keluwesan dalam ibadah sunnah.
Baca Juga : Daftar Doa yang Dibaca usai Salat Witir Ramadan, dari Minta Ampunan hingga Keselamatan
Lantas Mana yang Lebih Utama?
Pertanyaan “mana yang lebih baik?” sebenarnya kembali pada kualitas pelaksanaan.
Para ulama menjelaskan bahwa:
- Jika bacaan dalam satu rakaat panjang dan dilakukan dengan khusyuk, maka 11 rakaat sudah sangat baik.
- Jika bacaan pendek, menambah jumlah rakaat menjadi 23 dapat menjaga durasi dan kekhusyukan ibadah.
Yang paling penting adalah thuma’ninah. Salat 23 rakaat yang dilakukan terlalu cepat hingga mengabaikan rukun dan ketenangan gerakan tentu tidak ideal. Begitu pula 11 rakaat yang dikerjakan tanpa kekhusyukan.
Intinya: Jangan Jadikan Perbedaan sebagai Perdebatan. Salat tarawih adalah ibadah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Perbedaan jumlah rakaat sudah ada sejak masa sahabat dan tetap dihormati hingga sekarang.
Ramadan adalah momen memperbanyak ibadah, bukan memperpanjang perdebatan. Baik 11 rakaat maupun 23 rakaat, keduanya sah dan memiliki landasan yang kuat.
Yang paling utama adalah menjaga kekhusyukan, ketenangan, serta niat ikhlas dalam beribadah. Karena pada akhirnya, kualitas ibadah jauh lebih penting daripada sekadar angka.
