Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Batik Siswa SMPN 2 Sumberpucung Masuk Era Digital, Unikama Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

08 - Aug - 2026, 20:07

Placeholder
Sejumlah siswa SMPN 2 Sumberpucung, Kabupaten Malang, mengikuti proses produksi Batik Tulis Malangan sebagai bagian dari pengembangan Batik TGP. Pendampingan Unikama mendorong penggunaan teknologi produksi sekaligus memperkuat keterampilan siswa dalam mengembangkan batik berbasis kearifan lokal (ist)

JATIMTIMES - Batik Tulis Malangan yang dikerjakan siswa SMPN 2 Sumberpucung, Kabupaten Malang, mulai diarahkan keluar dari sekadar aktivitas pembelajaran Seni Budaya. Melalui pendampingan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) yang belum lama ini dilakukan, produk batik sekolah tersebut dikembangkan agar memiliki sistem produksi, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan yang lebih siap masuk ke ekosistem ekonomi digital.

Perubahan itu dilakukan karena pengelolaan Batik TGP sebelumnya masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Proses produksi mengandalkan peralatan tradisional, promosi dilakukan secara konvensional, sementara pencatatan keuangan belum berjalan secara terstruktur.

2

“Selama ini siswa membatik dengan kompor minyak tanah dan canting manual,” kata Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Unikama, Dr. Walipah, M.Pd.

Baca Juga : Harga Telur Anjlok dan Pakan Naik, Anggota DPR RI Riyono Caping Temui Peternak Magetan

Menurutnya, persoalan tidak berhenti pada teknologi produksi. “Promosi hanya dari mulut ke mulut, dan tidak ada pembukuan sama sekali,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi dasar Tim PKM Unikama merancang program Digitalisasi Eduecopreneurship Batik Tulis Malangan. Program ini merupakan hibah pengabdian dosen yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).

Dr. Walipah memimpin program tersebut bersama Dr. Roni Alim Ba'diya Kusufa, M.Pd., dan Ainia Walidaroyani, S.Tr.Kom., M.Kom.

Pendekatan yang digunakan bukan sekadar memperkenalkan peralatan baru, tetapi mengubah cara sekolah memandang produk batik. Batik TGP diarahkan memiliki identitas produk, katalog, harga jual, kanal pemasaran, serta pencatatan keuangan yang dapat mendukung keberlanjutan pengelolaannya.

1

Dalam konsep Eduecopreneurship, aktivitas tersebut menggabungkan pendidikan, kepedulian lingkungan, dan kewirausahaan. Batik tidak hanya ditempatkan sebagai materi praktik, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan nilai budaya lokal sekaligus kemampuan mengelola produk secara ekonomi.

Batik Tulis Malangan dipilih karena memiliki nilai historis, filosofis, dan estetis yang kuat sebagai bagian dari identitas budaya daerah Malang.

Pendampingan dilakukan menggunakan metode Participatory Learning and Action (PLA) melalui 10 tahapan, mulai dari survei dan koordinasi, pengadaan peralatan, pelatihan produksi, hingga evaluasi.

Pada sisi produksi, sekolah mendapatkan dukungan berupa kompor listrik, canting elektrik, serta alas atau midangan kayu untuk membatik. Perubahan peralatan tersebut diarahkan untuk membuat proses produksi lebih adaptif dengan kebutuhan pembelajaran dan pengembangan produk.

Siswa juga mendapatkan pembekalan teknik produksi modern yang mencakup 10 tahapan, mulai dari pencipratan malam, mencanting, pewarnaan, penggunaan waterglass, pelorodan, hingga display produk.

Transformasi kemudian dilanjutkan pada sisi pemasaran. Batik TGP mulai diarahkan memanfaatkan website khusus batik, Instagram, TikTok, dan marketplace sebagai kanal penjualan dan promosi.

Target produksinya tidak hanya berupa barang, tetapi juga konten. Mitra diarahkan membuat 12 hingga 24 konten setiap bulan untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun jejak digital Batik TGP.

Aspek keuangan juga menjadi bagian penting dalam perubahan tersebut. Sekolah mulai diperkuat dengan sistem manajemen keuangan digital, termasuk pembukuan mingguan dan penetapan harga berdasarkan biaya produksi.

Dengan sistem tersebut, harga produk tidak lagi ditentukan secara perkiraan, tetapi dapat dihitung berdasarkan komponen biaya yang dikeluarkan selama proses produksi.

Baca Juga : Membuka Pasar Lebih Luas dan Mendengarkan Aspirasi: PNM Sediakan Ruang Tumbuh bagi Pengusaha Malang

Kepala SMPN 2 Sumberpucung, Davit Harijono, S.Pd., M.Pd., mengatakan pendampingan tersebut membuat pengelolaan Batik TGP memiliki perangkat yang sebelumnya belum tersedia.

“Sekarang Batik TGP sudah memiliki katalog produk,” kata Davit.

Sekolah juga telah memiliki daftar harga, kanal promosi digital, dan sistem pembukuan yang lebih terstruktur.

Davit berharap perubahan tersebut tidak berhenti setelah program PKM selesai. Menurutnya, sekolah masih membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan potensi yang telah dibangun.

“Program PKM tidak berhenti sampai di sini,” ujarnya.

“Kami masih membutuhkan pendampingan lebih lanjut melalui kerja sama dalam bentuk MoU,” lanjut Davit.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat mencakup bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai program kolaboratif lain yang mendukung pengembangan SMPN 2 Sumberpucung secara berkelanjutan.

Program ini sekaligus diarahkan untuk mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Penguatan sumber daya manusia dan industri kreatif juga ditempatkan sebagai bagian dari arah program yang sejalan dengan Asta Cita.

Dari program tersebut, sejumlah luaran disiapkan, antara lain artikel jurnal, buku ber-ISBN, video YouTube, poster, serta pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk merek Batik TGP.

Pengembangan Batik TGP ini, bagi Unikama bukan semata persoalan mengganti kompor minyak tanah dengan kompor listrik atau memindahkan promosi dari cara konvensional ke media sosial. Perubahan yang dibangun adalah bagaimana produk yang lahir dari lingkungan sekolah memiliki sistem agar dapat dikenal, dihitung nilai ekonominya, dan dikembangkan secara berkelanjutan.

“Kami ingin SMPN 2 Sumberpucung menjadi sekolah percontohan Eduecopreneurship berbasis kearifan lokal di Malang Raya,” tegas Dr. Walipah.


Topik

Pendidikan batik tulis malangan smpn2 sumberpucung unikama walipah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tuban Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan