Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Nana Asma'u, Putri Khalifah Sokoto yang Menjadi Ikon Pendidikan Perempuan Muslim

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

12 - Jul - 2026, 11:33

Placeholder
Ilustrasi Nana Asma'u, ulama, penyair, dan pendidik asal Nigeria yang dikenang sebagai pelopor pendidikan perempuan dalam tradisi Islam Afrika Barat (ist)

JATIMTIMES - Di tengah bentang savana dan kawasan subur Nigeria, lahir seorang perempuan yang kelak dikenang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Islam di Afrika Barat. Sosok itu adalah Nana Asma'u, ulama, penyair, pendidik, sekaligus intelektual yang hingga kini dipandang sebagai pelopor pemberdayaan perempuan melalui pendidikan.

Mengutip About Islam, warisan pemikiran Nana Asma'u tetap hidup lebih dari 150 tahun setelah wafatnya. Putri Khalifah Sokoto itu diberi nama mengikuti Asma' binti Abu Bakar, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena kecerdasan dan keteguhan imannya.

Baca Juga : Percasi Kota Malang Borong 8 Medali di Kejurprov Catur Jatim 2026, Raih 2 Emas

Di Inggris, Nana Asma'u kerap disebut sebagai salah satu ikon feminis Islam pada masa awal. Sementara di Afrika Barat, ia dikenang sebagai tokoh yang memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan dan mengambil peran aktif dalam kehidupan masyarakat. Pengaruhnya meluas hingga kalangan intelektual di kawasan Sungai Nil dan Timur Tengah, sekaligus mematahkan anggapan bahwa perempuan Muslim pada masa lalu hanya berada di balik ruang domestik.

Besarnya pengaruh Nana Asma'u tidak lepas dari lingkungan keluarga yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kehidupan. Ayahnya, Usman Fodio, merupakan ulama fikih Mazhab Maliki sekaligus pengikut tarekat Qadiriyah. Ia sendiri dibesarkan oleh perempuan-perempuan berilmu, yakni ibunya Hawa dan neneknya Ruqaya. Pengalaman itu membuat Usman Fodio menyadari bahwa perempuan pada zamannya masih memiliki kesempatan yang sangat terbatas untuk mengenyam pendidikan.

Setelah melalui masa perjuangan dan mendirikan Kekhalifahan Sokoto di wilayah Hausa, Usman Fodio menjadikan pendidikan perempuan sebagai salah satu perhatian utama. Menurutnya, perempuan harus memiliki kesempatan mempelajari ajaran Islam agar mampu menjalankan perannya secara utuh, bukan sekadar dibatasi pada urusan rumah tangga.

Pandangan itu ia tuangkan dalam salah satu tulisannya. "Wahai Muslimah, jangan dengarkan ucapan orang-orang yang sesat dan yang menaburkan benih kesesatan di hati orang lain. Mereka menipu Anda ketika hanya menekankan ketaatan kepada suami tanpa memberitahu Anda tentang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya," tulis Usman Fodio.

Ia juga mengkritik kebiasaan yang membebankan perempuan dengan berbagai pekerjaan domestik tanpa memberikan hak memperoleh pendidikan agama. Menurutnya, banyak orang hanya menuntut perempuan memasak, mencuci, dan mengurus rumah tangga, tetapi mengabaikan kewajiban mengajarkan ilmu yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Di tengah lingkungan yang menjunjung tinggi tradisi keilmuan itulah Nana Asma'u tumbuh menjadi sosok cendekiawan. Sejak usia muda ia telah menghafal Alquran, mendalami fikih, serta menguasai empat bahasa, yakni Fulfulde, Hausa, Tamacheq, dan Arab Klasik.

Kemampuannya melahirkan berbagai karya penting. Ia menulis tafsir Alquran, biografi Nabi Muhammad SAW, hingga kajian Tibb al Nabawi atau Kedokteran Nabi. Bahkan saat menjalani masa kehamilan, Nana Asma'u tetap aktif menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Fulfulde dan Hausa, serta menerjemahkan kitab Sifaatu Safwa karya Ibnu al Jauzi. Lebih dari 60 karya tulisnya masih dipelajari hingga sekarang.

Kontribusi besarnya tidak berhenti pada dunia literasi. Nana Asma'u membentuk gerakan pendidikan Yan Taru yang melibatkan para pendidik perempuan keliling atau Jaji. Mereka mendatangi desa-desa untuk mengajarkan ilmu agama kepada perempuan sekaligus menyebarluaskan syair dan karya-karya Nana Asma'u.

Baca Juga : Rekomendasi Film Bioskop Akhir Pekan, Ada Moana hingga Horor Korea yang Menegangkan

Puisi menjadi salah satu media dakwah yang paling efektif. Tema-temanya mencakup kewajiban agama, kebangkitan spiritual, dosa, taubat, surga, hingga kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Beberapa puisinya bahkan mencapai sekitar 1.200 bait dan membutuhkan waktu hingga enam jam untuk dibacakan secara lengkap.

Para Jaji menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi meski harus menghadapi perjalanan jauh, cuaca ekstrem, dan berbagai risiko. Upaya tersebut berhasil membangun tradisi intelektual yang kuat di tengah masyarakat Sokoto. Bahkan pada masa kolonial Inggris, para utusan yang datang ke wilayah itu dibuat terkejut oleh tingginya tingkat literasi masyarakat.

Akademisi Inggris Jean Boyd yang pernah dikirim ke Nigeria bahkan mengakui kekagumannya terhadap tradisi keilmuan tersebut. Ia menulis, "Di sini ada literasi, ada Tuhan, jadi izinkan saya kembali dan mencoba belajar dari orang yang seharusnya saya didik."

Hingga kini, gerakan Yan Taru masih bertahan di sejumlah wilayah Afrika Barat dan Amerika Utara. Bagi Nana Asma'u, pendidikan tidak seharusnya menunggu perempuan datang ke pusat-pusat pembelajaran. Justru ilmu pengetahuan yang harus hadir menjangkau mereka, terutama perempuan di pedesaan yang memiliki keterbatasan waktu dan akses.

Sebagai ulama, intelektual, penyair, sekaligus seorang ibu, Nana Asma'u meyakini bahwa mendidik seorang perempuan berarti membangun masa depan sebuah keluarga. Pemikiran dan kiprahnya menjadikan Nana Asma'u sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah intelektual Islam yang pengaruhnya masih terasa hingga saat ini.


Topik

Agama nigeria afrika barat nana asmau tokoh islam



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tuban Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya