Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Diplomasi dalam Sejarah Perang Islam, Strategi Damai yang Didahulukan Rasulullah

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

16 - Apr - 2026, 10:58

Placeholder
Ilustrasi diplomasi sebagai bagian strategi perang dizaman Rasulullah (ist)

JATIMTIMES - Perbincangan global mengenai konflik dan upaya perundingan kembali mengemuka, termasuk dinamika negosiasi antara negara-negara besar. Dalam perspektif sejarah Islam, praktik diplomasi justru telah lama menjadi bagian penting dalam strategi perjuangan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Dalam ajaran Islam, perang bukanlah tujuan utama, melainkan langkah terakhir ketika seluruh pintu damai tidak lagi menemukan jalan keluar. Prinsip ini tercermin dalam berbagai peristiwa penting pada masa Rasulullah yang mengedepankan negosiasi, kesepakatan, serta musyawarah.

Baca Juga : The Alana Malang Gelar Signature Wedding Exhibition 2026, Tawarkan One Stop Wedding dengan Promo Besar

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.” (QS. Al-Anfal: 61). Ayat ini menegaskan bahwa upaya damai harus menjadi prioritas dalam menghadapi konflik.

Salah satu contoh paling menonjol adalah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriah atau 628 Masehi. Dalam peristiwa ini, Rasulullah SAW melakukan kesepakatan dengan kaum Quraisy Makkah yang menghasilkan gencatan senjata selama sepuluh tahun. Meski isi perjanjian pada awalnya dinilai merugikan umat Islam, langkah tersebut terbukti sebagai strategi jangka panjang yang membuka jalan bagi perkembangan dakwah hingga terjadinya Fathu Makkah.

Selain itu, sebelum pecahnya konflik besar, Rasulullah juga aktif menjalin perjanjian damai dengan berbagai suku di sekitar Madinah. Di antaranya kesepakatan dengan Bani Dhamrah dan tokoh seperti Amr bin Makhsyu adh-Dhamiri. Upaya ini dilakukan untuk menciptakan stabilitas kawasan serta mencegah meluasnya konflik bersenjata.

Momentum penting lainnya terlihat menjelang Fathu Makkah pada tahun 8 Hijriah. Rasulullah menawarkan opsi damai kepada kaum Quraisy dengan memberikan jaminan keamanan bagi warga yang tetap berada di rumah masing-masing atau berlindung di rumah Abu Sufyan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kekuatan militer tidak selalu berujung pada pertumpahan darah, melainkan bisa menjadi alat untuk menegakkan perdamaian.

Tidak hanya dalam relasi eksternal, prinsip perundingan juga diterapkan dalam pengambilan keputusan internal. Menjelang Perang Badar, Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat, termasuk menerima usulan strategis dari Hubab bin Mundzir terkait posisi sumber air. Praktik ini menjadi contoh nyata pentingnya dialog dalam menentukan langkah terbaik.

Baca Juga : Kekurangan Guru Agama, Pemkot Batu Siapkan Skenario Batu Mengajar hingga Tarik Guru dari Swasta

Sejumlah peristiwa tersebut menegaskan bahwa diplomasi dan musyawarah merupakan fondasi penting dalam ajaran Islam untuk meminimalkan konflik. Pendekatan ini tidak hanya relevan dalam konteks sejarah, tetapi juga menjadi rujukan nilai dalam menghadapi dinamika konflik modern saat ini.

Sementara itu, mengenai diplomasi dalam sejarah Islam tersebut merujuk pada berbagai literatur klasik dan kajian modern yang memiliki otoritas kuat dalam studi sirah nabawiyah. Di antaranya adalah Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam yang menjadi rujukan utama perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, termasuk peristiwa Perjanjian Hudaibiyah dan Fathu Makkah. 

Selain itu, referensi juga diperkuat oleh Ar-Raheeq Al-Makhtum yang menyajikan narasi sirah secara sistematis berbasis riwayat sahih. Sumber hadis seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim turut menjadi landasan dalam memahami prinsip musyawarah dan etika konflik. Disisi lain, karya sejarah klasik seperti Tarikh At-Tabari memberikan gambaran kronologis yang lebih luas terkait dinamika politik dan perundingan pada masa awal Islam. Seluruh rujukan tersebut dipadukan dengan nilai normatif dari Al-Qur’an sebagai fondasi utama ajaran perdamaian dalam Islam.


Topik

Agama Diplomasi Sejarah Islam Perang Islam Strategi Damai Rasulullah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tuban Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni