JATIMTIMES – Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pendidikan (Disdik) mengakui tengah menghadapi tantangan serius terkait kekurangan tenaga pendidik, khususnya guru agama. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, menyebut kondisi ini ironis mengingat status Batu sebagai kota wisata yang membutuhkan penguatan karakter agama sebagai benteng arus teknologi dan informasi.
Alfi mengungkapkan, secara global terdapat kekurangan sekitar 42 tenaga pendidik yang mencakup Guru Kelas, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Guru Pendidikan Jasmani (PJOK), hingga Guru Pendamping Khusus (GPK).
Baca Juga : Terkendala Batas Belanja Pegawai, Pemkot Malang Kaji Penambahan Guru
“Kita memang kekurangan guru agama, tidak hanya Islam tapi juga agama lainnya. Ini ironis, karena di kota wisata dengan arus teknologi informasi yang luar biasa seperti sekarang, benteng terkuat kita adalah pendidikan karakter dan agama. Tapi realitanya, kita kekurangan tenaga karena banyak yang pensiun atau beralih status,” ujar Alfi saat ditemui usai acara pengukuhan guru PAI di Balai Kota Among Tani, Rabu (15/4/2026).
Guna menutupi lubang kekurangan tersebut, Disdik Batu telah melakukan restrukturisasi surat tugas secara masif. Salah satu strategi jangka pendeknya adalah menarik kembali guru-guru agama yang sebelumnya banyak diperbantukan di sekolah swasta untuk kembali fokus mengajar di sekolah negeri.
“Guru-guru agama yang kemarin banyak diperbantukan di swasta, kita tarik ulang. Kita minta mereka fokus di sekolah negeri, namun tetap diberikan tugas tambahan untuk membantu mengabdi di sekolah swasta agar keduanya tetap berjalan,” jelasnya.
Kekurangan yang cukup signifikan ini memaksa pihak sekolah melakukan langkah improvisasi yang sebenarnya dinilai kurang ideal, yakni meminta guru kelas untuk merangkap tugas.
“Untuk menyiasati guru agama yang kurang, ada sebagian guru kelas kita yang dalam tanda petik kita 'paksa' menjadi guru agama. Meskipun sebenarnya ini kurang pas, tapi harus dilakukan agar proses belajar tetap berjalan,” tuturnya.
Baca Juga : Selter Sekda Kota Batu Sepi Peminat? Pj Sekda Tegaskan Masih Nihil, Wawali Sebut Sudah Banyak Pendaftar
Sebagai solusi jangka panjang, Alfi tengah mematangkan skenario kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi melalui program Merdeka Belajar. Mahasiswa fakultas agama yang tidak menempuh ujian skripsi akan diarahkan untuk melakukan pengabdian melalui program semacam "Batu Mengajar".
“Adik-adik mahasiswa akan kita berikan ruang dan tugas khusus untuk mengajar di sekolah-sekolah yang kekurangan guru agama. Ini akan kita masifkan lagi. Di sisi lain, kami juga sedang memproses pengusulan formasi penambahan guru agama kepada BKD (Badan Kepegawaian Daerah),” imbuhnya.
Melalui pengukuhan wadah kolaborasi seperti FKG, KKG, dan MGMP PAI, Alfi berharap ada sinergi yang lebih konkret untuk mengatasi ketimpangan jumlah tenaga pendidik. Disdik Batu berkomitmen agar tantangan administratif ini tidak mengganggu misi utama dalam memperkuat pondasi moral generasi muda di Kota Batu.
