JATIMTIMES — Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) Ony Setiawan mendorong pemerintah menjaga stabilitas harga pangan menjelang Lebaran di tengah potensi dampak gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah yang dapat memicu kenaikan harga energi global.
Menurut Ony, momentum Lebaran biasanya diikuti peningkatan permintaan bahan pokok masyarakat, sehingga perlu diantisipasi sejak dini agar tidak memicu lonjakan harga di pasar.
Baca Juga : Gelar Musrenbang, Pemkab Jember Tegaskan Sinergi Pembangunan dan Fokus Pengentasan Kemiskinan
“Pada situasi yang sangat sulit ini, pemerintah harus bisa menjaga ketersediaan bahan pangan sehingga harga tidak naik,” ujar Ony ketika ditemui di Gedung DPRD Jatim, Surabaya, Senin (9/3/2025).
Ia menilai, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi melalui intervensi pasar, seperti operasi pasar dan penguatan distribusi logistik apabila terjadi kenaikan harga komoditas.
“Support seperti operasi pasar bisa dilakukan. Kalau nanti ada kenaikan harga BBM, semoga tidak, pemerintah harus menyiapkan logistik-logistik untuk membantu masyarakat,” katanya.
Ony menjelaskan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berpotensi memicu kenaikan harga berbagai komoditas karena meningkatnya biaya distribusi. “Semua variabel akan naik kalau harga BBM naik,” ucap legislator asal Fraksi PDIP ini.
Karena itu, pemerintah diminta bergerak cepat dengan mengerahkan berbagai instrumen pengendalian harga apabila terjadi lonjakan harga di pasar.
“Kalau tiba-tiba ada lonjakan harga misalnya karena harga minyak naik, pemerintah harus mengerahkan armadanya supaya tidak terjadi lonjakan harga,” tandasnya.
Di tingkat global, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Harga minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh kisaran USD111 dolar AS per barel, naik tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut.
Kenaikan harga energi global tersebut berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang, termasuk bahan pangan di dalam negeri. Sementara itu, tekanan harga pangan di Jatim juga mulai terlihat dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga : Dewanti Rumpoko Ingatkan Risiko Longsor dan Banjir di Jalur Mudik Malang Raya
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Jatim pada Februari mencapai sekitar 0,95 persen secara bulanan, lebih tinggi dibanding inflasi nasional.
Kenaikan harga terutama dipicu oleh komoditas pangan seperti cabai rawit dan daging ayam ras. Bahkan harga cabai rawit sempat mengalami lonjakan signifikan dan di sejumlah daerah dilaporkan menembus kisaran Rp100.000 per kilogram.
Menurut Ony, kondisi tersebut perlu diantisipasi agar tidak semakin menekan daya beli masyarakat saat permintaan pangan meningkat menjelang hari besar keagamaan.
Di sisi lain, ia menilai program ketahanan pangan yang dijalankan pemerintah, seperti bantuan pupuk, bibit, serta pemanfaatan lahan pertanian, pada dasarnya sudah berjalan.
Namun menurut dia, perhatian utama saat ini adalah mengantisipasi potensi lonjakan harga pangan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. “Program itu sudah berjalan. Tinggal menunggu musim tanam mulai. Yang sekarang perlu perhatian adalah potensi lonjakan harga,” ungkap dia.
Ia berharap pemerintah dapat melakukan langkah antisipatif sejak dini agar stabilitas harga pangan tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak terganggu selama periode Ramadan hingga Lebaran.
