Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hiburan, Seni dan Budaya

Wejangan Sunan Kalijaga di Puncak Jabalkat: Perjalanan Spiritual Menuju Ketauhidan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

27 - Nov - 2024, 08:25

Placeholder
Situs Tri Tingal di Desa Purworejo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, jejak spiritual Ki Ageng Pengging, Syekh Siti Jenar, dan Sunan Kalijaga.

JATIMTIMES - Di puncak sunyi sebuah bukit yang dikenal dengan nama Jabalkat, sejarah menyimpan satu fragmen penting perjalanan spiritual Islam di Jawa. Tempat ini menjadi saksi bisu pertemuan monumental antara Sunan Kalijaga dan Sunan Tembayat. 

Di bawah naungan langit Jawa yang biru, wejangan penuh hikmah diberikan oleh salah satu Wali Songo termasyhur itu, menuntun generasi penerus dalam perjalanan menuju hakikat tauhid.

Menyingkap Makna di Balik Nama Jabalkat

Baca Juga : Aktris Iris Wullur Tuai Kritik Netizen Gara-Gara Video Minum Air Zamzam

Nama Jabalkat mengandung filosofi mendalam. Kata "Jabal" yang berarti gunung dalam bahasa Arab, bersanding dengan "Ahad," yang bermakna keesaan. Dengan demikian, Jabalkat melambangkan perjalanan spiritual menuju makrifatullah, puncak pemahaman akan keesaan Tuhan. Di tempat ini, Sunan Tembayat atau Sayyid Hasan Nawawi mendalami ilmu-ilmu makrifat ketuhanan.

Menurut catatan, Sunan Tembayat berada di puncak ini bukan hanya untuk bertapa, tetapi juga untuk menyelami hakikat keesaan, sebagaimana yang dirasakan oleh Syeikh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging. Sunan Kalijaga, dengan bijaksana, mengarahkan Sunan Tembayat untuk tidak hanya berhenti di puncak makrifat tetapi juga membawa ilmu itu ke masyarakat melalui syariat.

Perintah untuk Membumikan Syariat

Setelah mencapai makrifat di Puncak Jabalkat, Sunan Kalijaga memberikan perintah penting: turunlah, bangunlah Masjid Golo di Gunung Cokrokembang. Masjid ini, yang hingga kini dikenal sebagai Masjid Tujuh Belas, menjadi simbol penting dalam penyebaran Islam di Jawa. Nama masjid tersebut merujuk pada jumlah rakaat shalat wajib dalam sehari, mencerminkan hubungan antara spiritualitas dan kewajiban syariat.

Pada masa itu, Sunan Tembayat mempraktikkan prinsip "Awalu Wajibin Alal Insani Makrifatul Ilahi Bistiqoni," yakni keyakinan yang mendalam sebagai landasan awal bagi seorang manusia untuk mengenal Tuhan. Dengan membangun Masjid Golo, Sunan Tembayat menjadi jembatan antara dunia makrifat dan dunia nyata, memadukan dimensi spiritual dan sosial Islam.

Tata Malige Baitul Muharom: Ilmu Rasa untuk Semua

Di Masjid Golo, Sunan Kalijaga memberikan wejangan bernama Tata Malige Baitul Muharom. Ini bukan hanya ilmu teori, melainkan ilmu rasa yang mendalam. Wejangan ini menekankan pentingnya sarasehan atau patembayatan sebagai medium untuk menyatukan hati manusia tanpa memandang golongan atau paham.

Sarasehan ini mengajarkan manusia untuk tidak merasa paling benar, paling suci, atau paling mulia. Filosofi ini terukir dalam pesan yang hingga kini dikenal luas: "Ojo rumongso biso, biso-a rumongso. Jowo digowo, Arab digarab." Artinya, jangan merasa paling mampu atau paling benar, tetapi berusahalah untuk mampu menggali rasa dalam diri masing-masing.

Raden Said dan Jejak Dakwah Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga, yang lahir sebagai Raden Said, adalah putra Adipati Wilatikta dari Tuban. Menurut Babad Demak, ia memulai dakwahnya di Desa Kalijaga, Cirebon. Di sini, ia menyamar sebagai pembersih Masjid Sang Cipta Rasa, sebuah simbol rendah hati yang mencerminkan pendekatan dakwahnya.

Setelah melampaui berbagai ujian spiritual, termasuk uzlah selama tiga bulan di Pulau Upih, Raden Said dianugerahi gelar Sunan Kalijaga. Dakwahnya meluas dari Cirebon hingga ke pelosok Jawa, membawa nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan budaya lokal.

Baca Juga : Pastikan Kamtibmas Jelang Coblosan Pilkada Kondusif, Polres Ngawi dan Kodim 0805 Patroli Skala Besar

Di Cirebon, ia bertemu Sunan Gunung Jati yang menikahkannya dengan Siti Zaenab, putri Syaikh Lemah Abang (Siti Jenar). Dari pernikahan ini, lahirlah Watiswara, satu-satunya putra yang kelak melanjutkan warisan spiritual Sunan Kalijaga.

Petilasan Sunan Kalijaga di Cirebon, terutama Masjid Sang Cipta Rasa, menjadi bukti dedikasi dakwahnya. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat penyebaran ajaran Islam. Di sinilah ia bertemu para Wali Songo lainnya, memperkuat jaringan dakwah Islam di Nusantara.

Pengaruh Wejangan di Puncak Jabalkat

Wejangan di Puncak Jabalkat memiliki dampak yang meluas. Nilai-nilai yang diajarkan di sana menjadi pedoman hidup bagi Sunan Tembayat dan masyarakat Jawa pada umumnya. Dengan model sarasehan, Sunan Kalijaga menanamkan semangat inklusivitas dan kesetaraan, menolak segala bentuk fanatisme dan superioritas agama.

Pesan ini tetap relevan hingga kini, mengingat tantangan zaman yang sering memicu perpecahan akibat perbedaan pandangan. Semangat ngudo roso yang diwariskan oleh Sunan Kalijaga adalah pelajaran penting bagi masyarakat modern untuk selalu merajut harmoni dalam keberagaman.

Hikmah di Balik Jabalkat

Puncak Jabalkat bukan hanya tempat bersejarah, tetapi juga simbol perjalanan spiritual menuju keesaan. Di sini, Sunan Kalijaga dan Sunan Tembayat memperlihatkan bahwa ilmu makrifat harus diimbangi dengan syariat untuk membentuk masyarakat yang beradab.

Pesan yang diukir di Jabalkat—Ojo rumongso biso, biso-a rumongso—adalah pengingat abadi bahwa dalam perjalanan hidup, kerendahan hati adalah kunci untuk memahami makna sejati keesaan Tuhan. Semangat ini adalah warisan luhur yang terus hidup di hati masyarakat Jawa, menginspirasi harmoni dan kebijaksanaan lintas generasi.

 


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Sejarah Islam sunan tembayat puncak jabalkat



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tuban Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni