Banyak cara bagi masyarakat merayakan hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-74. Baik melalui berbagai kegiatan yang bersifat menghibur sampai menggelar acara untuk mengenang atau berkontemplasi dengan jejak-jejak sejarah masa lalu.
Mengingat ulang dan menyerap intisari sejarah sampai akhirnya masyarakat bisa merasakan kemerdekaan seperti saat ini.
Hal inilah yang setiap tahun dilakukan oleh masyarakat Desa Slorok, Kecamatan Kromengan, dalam setiap kali memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Warga diinisiasi oleh para pemuda dan pemerintah desa untuk menghelat upacara kemerdekaan sekaligus mengenalkan jejak sejarah. Baik terkait terbentuknya Desa Slorok maupun pergulatan perjuangan para pahlawan yang telah membebaskan belenggu penjajahan.
"Setiap tahun kita adakan upacara memperingati kemerdekaan RI dengan cara mengenalkan sejarah kepada warga. Karena itu kita pakai lokasi di petilasan atau punden desa. Ini sebagai bagian merawat jejak sejarah desa kami juga," ucap Muchamad As'ari Fuddin, koordinator acara dalam kegiatan upacara kemerdekaan RI ke-74, Sabtu (17/08/2019) kepada MalangTIMES.
Jas Merah atau jangan sekali-kali neninggalkan sejarah, semboyan yang diucapkan oleh Soekarno dalam pidato terakhirnya pada hari ulang tahun RI tanggal 17 Agustus 1966. Menjadi titik tolak warga Desa Slorok untuk terus merawat ingatan atas perjuangan dan hasilnya yang kini dirasakan masyarakat.
Udin, sapaan akrab koordinator acara yang juga perangkat desa ini, melanjutkan, bahwa harapan besar dari para pemuda untuk mentradisikan upacara di petilasan atau punden desa, sebagai bagian dalam merawat ingatan atas sejarah desa dan tentunya perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan.

"Kita usung semboyan jasmerah Soekarno. Harapannya kita bisa kembali mengusung spirit para pahlawan masa lalu di saat ini. Pun juga mengenalkan jejak sejarah desa kita sendiri secara berkelanjutan," ujarnya.
Di acara upacara kemerdekaan yang diikuti sekitar 100 warga Slorok di area petilasan atau punden desa. Warga pun mencoba mengilustrasikan perjuangan para pahlawan melalui busana upacara yang dikenakan.
Dari busana perjuangan, adat jawa, maupun lainnya yang menggambarkan kondisi di era perjuangan kemerdekaan. Lengkap dengan berbagai atribut yang dipakai dan dibawa warga. Tak terkecuali dengan kostum dengan belepotan lumpur yang dikenakan beberapa peserta upacara.
Tak ketinggalan para pelajar pun ikut serta dalam upacara kemerdekaan RI ke-74. Dimana, mereka secara antusias dan gembira mengikutinya.
Udin menyatakan, pelibatan anak-anak sekolahan di wilayah desanya juga sebagai bagian dalam menumbuhkan kecintaan dan nasionalisme sejak dini.
"Ini bagian dari konsep kita untuk secara berkelanjutan mengenalkan sejak dini arti kemerdekaan dan jiwa nasionalisme pada anak-anak," ungkapnya yang melanjutkan, seusai upacara kemerdekaan selesai di petilasan atau punden desa, peserta pun melakukan kirab menuju kantor balai desa.
Merawat ingatan dan menyadap spirit para pahlawan yang dilakukan oleh warga desa Slorok, bisa menjadi contoh merayakan kebebasan di era yang semakin gegap gempita hari ini. Era dimana kebebasan kerap tersandung kepada perilaku yang tidak lagi terikat oleh berbagai adat, norma dan aturan yang ada.
"Kita beranjak dari sana juga untuk sebuah pembelajaran bersama. Bahwa kemerdekaan dan kebebasan saat ini tetap ada garis dan aturan yang disepakati bersama," pungkas Udin.
