Bu Camat Ikut Pawai Kemerdekaan, Sebut Seni Tradisi Harus Bikin UMKM Hidup

22 - Aug - 2026, 10:28

Rela kepanasan berkostum wayang orang, Camat Barat Ari Budi bersama jajaran BKAD sengat spirit cinta budaya warganya.

JATIMTIMES – Pesta rakyat peringatan Hari Kemerdekaan RI di Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, berubah menjadi panggung gerakan budaya yang tak biasa. 

Jajaran Pemerintah Kecamatan Barat bersama Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD) memanfaatkan momen ini sebagai pijakan strategis untuk merevaluasi kesenian tradisional yang sempat mati suri, sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal di wilayah Magetan.

Baca Juga : 3 Film tentang Kebakaran Hutan yang Menegangkan, dari Only the Brave hingga Firebreak

 

Pemanfaatan momen nasional seperti event perayaan kemerdekaan RI ini pun dijadikan momentum tepat sebagai ajang rebranding budaya sekaligus unjuk gigi potensi seni lokal.

Keseriusan dalam membakar spirit cinta budaya ini dibuktikan langsung oleh Camat Barat Ari Budi. Selaku inisiator pagelaran, camat perempuan ini  tak segan membaur dan ikut menari mengenakan kostum tokoh Dewi Kunti bersama jajaran BKAD yang turut berkostum wayang dan rela berpanas-panasan sepanjang rute karnaval.

Dengan mengenakan busana adat dan kostum wayang lengkap di bawah paparan panas matahari, rombongan membawakan fragmen kolosal berlatar lakon Rama Shinta serta figur Dewi Kunti.

"Tujuan utama kita tidak sekadar membangunkan kembali kejayaan seni ketoprak dan wayang orang di Desa Purwodadi yang sempat tertidur puluhan tahun. Lebih dari itu, kami ingin mengenalkan kembali kekayaan budaya kita secara menyeluruh kepada masyarakat Barat,"ujar Ari Budi.

"Lewat aksi nyata turun ke jalan seperti ini, kami ingin memberikan wadah serta menyengat spirit seluruh elemen masyarakat agar senantiasa bangga, kenal, dan mencintai budaya lokalnya sendiri," ungkapnya lagi.

Upaya jajaran BKAD ini membawa haru mendalam bagi para pelaku seni lokal Magetan. Salah satunya Bu Menik. Sebagai sosok yang telah menekuni seni tradisi sejak usia 10 tahun dan merintis Ketoprak Suryo Budoyo bersama tokoh lokal seperti Pak Yoyok, ia menguraikan perjalanan panjang kelompok seni di Desa Purwodadi hingga akhirnya vakum.

"Dulu sebenarnya kita punya potensi besar, baik ketoprak Suryo Budoyo maupun paguyuban wayang orang di Magetan ini. Di wayang orang sendiri, sistem perannya digilir agar semua pemain menguasai pelbagai karakter, tidak monoton di satu peran saja," ucap Bu Menik.

Baca Juga : Peruntungan 6 Zodiak Sabtu 22 Agustus 2026: Ada Yang Makin Cuan

 

Mengenai penyebab meredupnya aktivitas seni selama ini, Bu Menik mengungkapkan kendala utamanya. "Lama-kelamaan sempat hilang dan vakum karena tidak ada yang menanggap. Selain itu, masyarakat luar Magetan mungkin belum banyak yang mengenal potensi kita. Padahal dari segi kostum, pelatih, hingga sumber daya pemain, semuanya kita sudah punya sendiri di sini, tidak perlu mencari jauh-jauh keluar daerah," jelasnya.

Tentang pemilihan lakon Ramayana yang diusung oleh BKAD Kecamatan Barat pada karnaval kemerdekaan di Magetan kali ini, Bu Menik memberikan penjelasan mendalam dari kacamata seorang seniman senior. Menurut dia, lakon tersebut membawa pesan moral yang amat relevan dengan nilai-nilai kemerdekaan.

"Inti dari tema Ramayana yang ditampilkan ini adalah simbol pemberantasan angkara murka, khususnya merujuk pada sosok Rahwana (Ronggo). Pesannya sangat pas dengan semangat kemerdekaan, yaitu bagaimana kebaikan dan kebenaran pada akhirnya harus menang menumbangkan kejahatan serta keserakahan," pungkas Bu Menik.

Aksi kolosal ini bukan lagi sekadar hiburan visual. BKAD Kecamatan Barat kini memikul komitmen baru untuk terus membuka ruang apresiasi berkelanjutan.

Pembinaan potensi kebudayaan lokal dan penggalian keunikan di setiap desa menjadi langkah strategis yang harus dikawal. Dengan mengaktifkan kembali seni lokal, pemerintah daerah meyakini ekosistem ini akan menjadi penggerak utama roda ekonomi kreatif berbasis tradisi masyarakat di wilayah Barat dan Magetan secara luas.