Tingkat Skrining Kanker Serviks Masih Rendah, Hanya Terealisasi 5 Persen dari 700 Ribu Sasaran

Reporter

Ashaq Lupito

Editor

Yunan Helmy

12 - Apr - 2026, 04:37

Wakil Bupati Malang Hj Lathifah Shohib (sambutan di podium) bersama Dinkes Kabupaten Malang saat menggelar kegiatan advokasi perluasan implementasi deteksi dini kanker leher rahim dengan metode self sampling pada beberapa waktu lalu. (Foto: Prokopim Setda Kabupaten Malang for JatimTIMES)

JATIMTIMES - Sekitar separuh dari total 400-an pengidap kanker serviks di Kabupaten Malang dinyatakan meninggal. Penyebabnya diduga karena minimnya tingkat kesadaran para kaum hawa untuk melakukan skrining kanker leher rahim.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten MalangTitis Ari Respatilatsih menyebut, ada sekitar 700 ribu sasaran skrining pada upaya pencegahan maupun penanggulangan kanker serviks di Kabupaten Malang.

Baca Juga : Penjualan Motor Listrik di Malang Naik 30 Persen, ASN Dominasi Pembelian

"Dari 700 ribuan sasaran itu, hanya sekitar lima persen yang di skrining. Jadi yang periksa itu hanya sekitar lima persen dari jumlah tersebut, belum semuanya (di-skrining, red)," ujarnya.

Titis menyebut, penyebab rendahnya tingkat skrining kanker serviks di Kabupaten Malang tersebut disinyalir karena berbagai faktor. Salah satu faktor utamanya ialah metode skrining pada kanker serviks tersebut.

"Metode paling sering dipakai yanga dulu itu IVA (inspeksi visual asetat) sama pap smear," ujarnya.

Pada metode tersebut, dijelaskan Titis, pasiennya harus melakukan skrining di fasilitas kesehatan. Kemudian diambil sampelnya oleh tenaga kesehatan. 

"Sehingga harus melibatkan orang lain. Jadi, dia (pasiennya, red) harus tidur dalam posisi tertentu untuk kemudian diambil sampelnya," jelasnya.

Metode itulah yang kemudian disinyalir turut menjadi penyebab minimnya tingkat skrining kanker serviks di Kabupaten Malang. "Karena harus melibatkan orang lain, sehingga tentunya metode seperti itu menimbulkan adanya ketakutan sama terutama malu ya," jelasnya.

Guna mengatasi kendala tersebut, pemerintah saat ini juga telah gencar mensosialisasikan metode skrining terbaru yang lebih menjamin privasi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang pada Kamis (9/4/2026) lalu juga telah menggelar kegiatan advokasi perluasan implementasi deteksi dini kanker leher rahim dengan metode self sampling.

"Metode yang terbaru ini sekarang sudah disosialisasikan. Kalau yang terbaru ini, mereka, pasiennya bisa ambil sampel sendiri. Yaitu dengan bahan medis habis pakai yang ada untuk khusus (skrining kanker serviks, red), namanya HPV DNA," imbuhnya.

Merujuk pada beberapa sumber, pemeriksaan HPV DNA adalah prosedur skrining molekuler untuk mendeteksi materi genetik (DNA) virus Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi pada sel serviks yang berpotensi menyebabkan kanker serviks. Tes ini disebut lebih sensitif dari pada pap smear dalam mendeteksi infeksi HPV sejak dini, bahkan sebelum perubahan sel kanker terjadi.

"Dengan metode itu, nantinya dia (pasien, red) bisa ambil sampel sendiri. Jadi kan nggak malu karena tidak melibatkan orang lain. Alatnya seperti tabung kecil, panjang. Kemudian ada pegangannya untuk mengambil (sampel, red)," jelasnya.

Baca Juga : 4 Nama Pejabat dari Internal Menguat di Bursa Calon Sekda Kota Batu

Alat skrining kanker serviks metode terbaru itulah, disampaikan Titis, yang nantinya akan masif di distribusikan oleh pemerintah kepada para sasaran skrining. "Saat ini masih dalam proses ya, proses bantuan dari Kementerian Kesehatan untuk di daerah-daerah," imbuhnya.

Mekanismenya, alat skrining kanker serviks tersebut akan di distribusikan melalui sejumlah fasilitas kesehatan. Salah satunya di distribusikan melalui puskesmas-puskesmas.

"Jadi tidak langsung di distribusikan ke masyarakat, tapi tetap ke fasilitas kesehatan, lewat puskesmas. Hanya saja nanti untuk pengambilan sampelnya itu bisa dilakukan oleh pasien sendiri," ujarnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sekitar 400 wanita di Kabupaten Malang dinyatakan positif mengidap kanker serviks. Dari jumlah tersebut, sekitar separuh di antaranya telah meninggal. Dari ratusan pengidap kanker serviks tersebut berasal dari usia-usia produktif. Yakni rata-rata berusia 30-69 tahun.

Data Dinkes Kabupaten Malang mengungkapkan, jumlah pengidap kanker serviks yang terdata hingga saat ini tersebut diperkirakan masih melebihi angka 400 jiwa. Penyebabnya sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, yakni karena tidak semua wanita dengan rentang usia yang bisa dilakukan deteksi dini kanker serviks melakukan skrining.

Selain itu, banyak wanita yang mengeluhkan sakit namun tidak memeriksakan diri. Padahal sudah menunjukkan gejala kanker leher rahim atau serviks.

"Sehingga kemungkinan bisa melebihi itu (400 jiwa penderita kanker serviks, red), karena banyak yang tidak skrining. Ada juga yang sakit, ada keluhan, tetapi tidak memeriksakan diri," pungkas Titis.