3 Jenis Manusia Menurut Imam Al-Ghazali, Kamu Termasuk yang Mana?

Reporter

Binti Nikmatur

09 - Mar - 2025, 08:10

Potret seorang perempuan membisikkan rahasia kepada perempuan lainnya, ilustrasi jenis manusia menurut Imam Al-Ghazali. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Imam Al-Ghazali, yang dikenal sebagai Hujjatul Islam, orang yang menguasai banyak sekali hadits dan memfatwakannya dengan mudah, mengelompokkan manusia ke dalam tiga jenis berdasarkan manfaat yang mereka berikan kepada sesama. 

Dalam kitab Bidayatul Hidayah ed. Ahmad Syauman, hlm. 144, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ada manusia yang selalu dibutuhkan, ada yang hanya dibutuhkan sesekali, dan ada pula yang sebaiknya dihindari, sebagaimana dilansir dari Instagram Shahih Fiqih. Lantas, termasuk golongan manakah kita? 

1. Manusia Seperti Makanan: Selalu Dibutuhkan
Jenis manusia pertama adalah mereka yang diibaratkan seperti makanan. Keberadaan mereka selalu diperlukan oleh orang lain. Mereka memberikan manfaat kapan pun dan di mana pun, layaknya makanan yang menjadi kebutuhan dasar setiap hari. 

Orang-orang dalam kategori ini biasanya memiliki sifat yang baik, gemar membantu, serta membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Mereka hadir dengan ilmu, nasihat, atau tindakan nyata yang membantu orang lain menjalani hidup dengan lebih baik. 

2. Manusia Seperti Obat: Dibutuhkan Sesekali
Jenis manusia kedua adalah mereka yang diibaratkan seperti obat. Keberadaan mereka hanya dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu, misalnya ketika seseorang mengalami kesulitan atau membutuhkan solusi atas suatu masalah. 

Mereka bisa saja orang yang memiliki keahlian khusus atau wawasan tertentu yang baru dicari ketika dibutuhkan. Namun, setelah masalah teratasi, keberadaan mereka tidak lagi dicari atau dianggap mendesak. Meski begitu, mereka tetap memberikan manfaat dalam waktu dan situasi tertentu. 

3. Manusia Seperti Penyakit: Sebaiknya Dihindari
Jenis manusia ketiga adalah mereka yang diibaratkan seperti penyakit. Mereka tidak membawa manfaat, bahkan bisa merugikan orang lain. Keberadaan mereka dapat menimbulkan konflik, perpecahan, atau hal-hal negatif lainnya dalam kehidupan sosial. 

Imam Al-Ghazali menekankan bahwa manusia semacam ini sebaiknya dihindari. Namun, bukan berarti mereka tidak memiliki sisi yang bisa dipelajari. Justru, dengan memperhatikan keburukan perilaku mereka, kita bisa mengambil pelajaran agar tidak terjerumus dalam tindakan serupa. 

Dalam kitab yang sama, Imam Al-Ghazali juga mengutip sebuah kisah tentang Nabi Isa ‘alaihis-salam. Suatu ketika, beliau ditanya, "Siapakah yang mendidikmu?" 

Nabi Isa menjawab, "Tak ada seorang pun yang mendidikku. Namun, aku memerhatikan kebodohan orang yang bodoh, lalu aku pun menjauhi kebodohan." 

Jawaban ini mengajarkan bahwa kita bisa belajar dari kesalahan dan kebodohan orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian, baik yang baik maupun yang buruk. 

Seperti yang dikatakan Imam Al-Ghazali, "Orang beriman adalah cermin bagi sesama orang beriman."  Semoga informasi ini bermanfaat.